Wonder Nusantara, Bagi masyarakat sekitar, menangkap ikan bilih bukan sekadar pekerjaan—ini adalah tradisi yang menyatu dengan alam. Di pagi atau sore hari, kita bisa melihat warga menurunkan perahu kecil ke danau sambil membawa jaring halus yang disebut "jaring bilih."
Cara menangkapnya pun unik. Jaring disebar secara perlahan sambil mengayuh perahu dengan tenang agar tak membuat ikan panik. Mereka akan mengelilingi satu titik lalu menarik jaring pelan-pelan, dengan penuh kesabaran. Suasana menangkap ikan bilih menjadi momen kebersamaan yang menyenangkan—sering kali diselingi tawa, cerita kampung, bahkan nyanyian.
Hasil tangkapan biasanya langsung dibawa ke darat, dikeringkan, atau digoreng menjadi makanan khas yang renyah dan gurih: bilih goreng, bilih balado, atau bilih kering sambal lado.
Mengenal Habitat Ikan Bilih di Danau Maninjau: Harta Karun Ekosistem dan Tradisi Rakyat Minang
Di jantung Ranah Minang, tepatnya di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terhampar sebuah danau kaldera bernama Danau Maninjau—sebuah mahakarya alam yang bukan hanya indah, tetapi juga kaya akan cerita kehidupan. Di balik tenangnya permukaan danau, tersimpan kehidupan seekor ikan mungil nan legendaris: ikan bilih (Mystacoleucus padangensis).
Ikan Bilih: Kecil Tapi Berarti
Ikan bilih dikenal sebagai ikan endemik yang hanya hidup di dua danau dunia: Danau Singkarak dan Danau Maninjau. Bentuknya ramping, berwarna perak mengilap, dan panjangnya hanya sekitar 5–7 cm. Namun jangan salah—keberadaan ikan ini sangat penting, baik secara ekologis maupun ekonomi.
Habitat Bilih di Danau Maninjau
Danau Maninjau memiliki suhu air yang stabil di kisaran 22–28°C, dengan kedalaman mencapai 165 meter. Ikan bilih biasanya hidup di zona pelagis—bagian tengah danau yang dalam dan jernih. Di sinilah mereka mencari plankton sebagai makanan utama dan berkembang biak di tepian danau berbatu dan berpasir.
Tantangan: Habitat yang Terancam
Namun, seiring waktu, habitat alami bilih mulai terancam. Pertumbuhan keramba jaring apung yang tak terkendali, limbah rumah tangga, dan sedimentasi dari pertanian menjadi sumber pencemaran utama. Air danau menjadi lebih keruh, kandungan oksigen menurun, dan hal ini berdampak langsung pada populasi ikan bilih. Banyak warga mengeluhkan hasil tangkapan menurun dari tahun ke tahun.
Upaya Pelestarian: Dari Warga, Untuk Alam