Perjalanan kami di Kudus berlanjut. Setelah menyerap kuatnya jejak industri di Museum Kretek, rombongan Travel Dialog bersama Disparpora dan pelaku wisata Karanganyar bergerak menuju Jalan Sunan Muria, Desa Glantengan, Kecamatan Kota Kudus.
Di sanalah berdiri Museum Jenang Kudus — sebuah ruang yang bukan hanya menyimpan cerita tentang makanan manis, tetapi tentang peradaban kota Kudus itu sendiri.
Museum ini berada di lantai dua gerai Mubarok Food, produsen jenang legendaris. Namun begitu menaiki tangga menuju lantai dua, yang kami temukan bukan sekadar etalase produk, melainkan sebuah rekonstruksi suasana Kudus tempo dulu.
Memasuki museum, kami seperti masuk ke lorong waktu.
Di dalamnya terdapat maket rumah adat khas Kudus, miniatur kompleks Masjid Menara, makam Sunan Kudus, hingga replika kitab Al-Qur’an besar yang menjadi simbol kuatnya akar religius kota ini. Tata ruangnya menghadirkan narasi bahwa Kudus tidak bisa dilepaskan dari perpaduan agama, budaya, dan perdagangan.
Bagi kami, ini bukan sekadar museum kuliner.
Ini adalah museum identitas kota.
Beberapa rombongan bahkan mencoba mengenakan baju adat Kudus yang disediakan museum untuk berfoto. Momen sederhana, tetapi penuh makna—karena wisata hari ini bukan hanya melihat, tetapi merasakan dan mengalami.
Cerita Museum Jenang tidak bisa dilepaskan dari kisah perjuangan keluarga.
Semua bermula pada tahun 1930.
H. Mabruri dan istrinya, Hj. Alawiyah, berjualan jenang di Pasar Bubar Menara, pasar legendaris yang berada dekat Menara Kudus. Saat itu, belum ada merek. Hanya ketekunan, kualitas rasa, dan keyakinan.
Seiring waktu, jenang mereka diberi label Sinar 33, diambil dari nomor rumah dan tempat produksi. Nama itu kemudian berkembang dan kini dikenal sebagai Mubarok Food.
Dari satu keluarga kecil di pasar tradisional, jenang Kudus tumbuh menjadi identitas kota. Hingga akhirnya pada 22 September 2022, Museum Jenang meraih Rekor MURI sebagai Museum Jenang Pertama di Indonesia dan Dunia.
Bagi rombongan Karanganyar yang hadir dalam Travel Dialog, kisah ini menjadi refleksi kuat:
UMKM yang konsisten dan berakar pada nilai bisa bertahan lintas generasi.
Pembangunan museum ini terinspirasi dari falsafah hidup Sunan Kudus yang dikenal dengan istilah Gusjigang.
Gus: bagus akhlaknya
Ji: pintar mengaji
Gang: pandai berdagang
Filosofi ini terasa hidup di Museum Jenang.
Kudus tidak hanya dikenal sebagai kota religius, tetapi juga kota pedagang. Bukan pedagang biasa, melainkan pedagang yang beretika, berilmu, dan berkarakter.
Di tengah rombongan Travel Dialog, diskusi spontan pun muncul. Bagaimana jika nilai Gusjigang ini juga menjadi inspirasi dalam membangun UMKM Karanganyar? Bagaimana jika pariwisata dan perdagangan berjalan beriringan dengan nilai moral dan edukasi?