Video : Wonder Nusantara I Kupang NTT I Rudi Riri T
Musim hujan di Kota Kupang biasanya identik dengan langit kelabu dan tanah basah. Namun bagi warga Kelurahan Nunbaun Delha, Kecamatan Alak, hujan justru menjadi pertanda kehidupan. Air perlahan mengalir dari perut bumi, memenuhi sebuah ruang sunyi peninggalan Perang Dunia II—Goa Jepang, yang oleh warga setempat lebih akrab disebut Goa Meriam.
Di sinilah sejarah, alam, dan keseharian warga bertemu dalam satu lanskap yang sederhana namun bermakna.
Ingin mengetahui potensi UMKM NTT
Goa Jepang Nunbaun Delha merupakan satu-satunya goa peninggalan Jepang di wilayah ini yang telah diinventarisasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali. Letaknya tersembunyi di tengah permukiman warga, hanya sekitar 200 meter dari jalan raya, dan mudah dijangkau baik dengan sepeda motor maupun mobil. Tidak ada gerbang megah atau papan wisata besar—yang menyambut pengunjung hanyalah mulut goa, batuan tua, dan sebuah meriam pertahanan yang berdiri bisu sejak puluhan tahun lalu.
Saat hujan turun berhari-hari, beberapa mata air besar di dalam goa pecah, mengalirkan debit air yang cukup untuk menggenangi lantai goa. Airnya jernih, dingin, dan alami. Dalam waktu singkat, ruang yang dahulu menjadi bagian dari strategi militer berubah fungsi menjadi pemandian alam musiman.
Anak-anak datang lebih dulu, bermain air dengan tawa lepas. Orang dewasa menyusul, duduk di tepi goa, merendam kaki, berbincang ringan. Tidak ada tiket, tidak ada wahana—yang ada hanyalah rasa memiliki.
Di depan mulut goa, warga telah membuat saluran air sederhana untuk mengalirkan kelebihan debit air agar tidak meluap ke pemukiman. Upaya kecil ini menjadi bukti bahwa cagar budaya dan kehidupan sehari-hari bisa berjalan berdampingan.
Goa Meriam berada di atas lahan milik Agustinus Dewa, warga yang sekaligus menjadi penjaga tidak resmi situs bersejarah ini. Bersama warga dan perangkat RT setempat, goa tetap dijaga agar tidak rusak, tidak diubah, dan tetap bisa dinikmati secara alami.
Ketua RT 015/RW 008, Thomas Edison Usmany, menjelaskan bahwa fenomena ini selalu terulang setiap musim penghujan. Air yang keluar dari mata air besar di dalam goa menjadikan lokasi ini sebagai tempat pemandian favorit warga sekitar—sebuah bentuk wisata lokal yang tumbuh tanpa dirancang, namun bertahan karena kebersamaan.
Goa Jepang Nunbaun Delha bukan destinasi wisata dalam pengertian komersial. Ia adalah ruang hidup, tempat sejarah kolonial berbaur dengan kearifan lokal. Di sini, meriam perang tidak hanya menjadi simbol konflik masa lalu, tetapi juga penanda bahwa ruang-ruang sejarah bisa menemukan makna baru—lebih damai, lebih manusiawi.
Bagi pelancong yang mencari pengalaman berbeda di Kupang, Goa Jepang menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan: wisata musiman yang jujur, tanpa polesan, tanpa jarak antara pengunjung dan warga. Datanglah saat hujan, dan biarkan alam membuka ceritanya sendiri. ( Edit By Antonius /Jeri Pemungkas )