Editorial : Membaca Peluang, Menakar Potensi Ekonomi Desa di Tengah Arus Digitalisasi Nasional

    
    
Editorial : Membaca Peluang, Menakar Potensi Ekonomi Desa di Tengah Arus Digitalisasi Nasional
Admin Wonder Nusantara | 02 Feb 2026, 22:32 | 0


Foto : Ilustrasi 

Oleh: Redaksi Wonder Nusantara

Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia tengah berada pada titik koordinat yang sangat menarik. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2024/2025 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai transaksi ekonomi digital nasional (Gross Merchandise Value) diproyeksikan akan menyentuh angka $110 hingga $120 miliar pada tahun 2026. Di balik angka makro tersebut, terdapat pergeseran perilaku konsumen yang signifikan: sebuah peluang yang kini mulai mengarah ke akar rumput.

Pergeseran Tren Konsumsi: Dari Komoditas ke Otentisitas

Data menunjukkan bahwa transaksi e-commerce tetap menjadi kontributor utama. Namun, laporan Studi McKinsey & Company mengenai konsumen digital Asia Tenggara menyoroti tren menarik: mulai jenuhnya pasar terhadap produk massal. Saat ini, terdapat pertumbuhan minat yang signifikan pada sektor wisata minat khusus dan produk-produk otentik.

Dalam ekosistem digital, riset dari HubSpot dan Content Marketing Institute menyebutkan bahwa produk yang disajikan dengan narasi kuat (storytelling) memiliki peluang keterikatan konsumen (engagement) hingga 2,5 kali lebih tinggi. Ini membuktikan bahwa pasar kini tidak sekadar membeli barang, melainkan membeli nilai dan cerita di balik produk tersebut.

Akselerasi Transaksi di Tingkat Lokal

Lompatan teknologi juga terlihat dari adopsi transaksi non-tunai di perdesaan. Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan volume transaksi QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang konsisten melonjak di atas 100% secara tahunan (YoY). Keberhasilan QRIS menjangkau jutaan merchant UMKM hingga ke pelosok menjadi indikator kuat bahwa infrastruktur pembayaran digital telah siap mendukung ekosistem ekonomi desa.

Potensi Hilirisasi Produk Desa

Jika ditarik ke konteks lokal, ruang pertumbuhan bagi hilirisasi produk unggulan desa terbuka lebar. Merujuk pada data Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM), kontribusi ekspor UMKM nasional saat ini didominasi oleh sektor kriya dan kuliner, yakni sekitar 15%. Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas produk lokal memiliki daya saing yang mumpuni, asalkan mampu mengadaptasi standar preferensi pasar digital—terutama dalam aspek visual dan kemudahan akses informasi.

Penutup: Menjemput Arus Baru

Angka-angka di atas memberikan gambaran objektif bahwa digitalisasi bukan lagi sekadar tren, melainkan arus besar yang membawa peluang ekonomi baru. Tantangannya kini terletak pada bagaimana mengonsolidasikan potensi-potensi lokal agar dapat berselancar di atas arus transaksi nasional yang terus membesar.

Data telah tersaji, dan peluang telah terpetakan secara jernih melalui riset-riset global maupun nasional. Masa depan ekonomi digital Indonesia tampaknya akan banyak ditentukan oleh seberapa jeli kita melihat potensi yang selama ini tumbuh dari akar rumput.

Daftar Referensi Data :

Ingin telusuri lebih? Klik disini