Misteri Tempayan Tua Gunung Sirimau: Jejak Kearifan Lokal di Jantung Ambon

    
    
Misteri Tempayan Tua Gunung Sirimau: Jejak Kearifan Lokal di Jantung Ambon
Penulis | 20 Aug 2025, 03:27 | 0


Di lereng-lereng hijau Gunung Sirimau—punggung kota Ambon yang setia memeluk teluk—terselip kisah tentang “tempayan tua”. Bukan sekadar wadah tanah liat, ia menyimpan lapis-lapis makna: penanda jalur, penyangga hidup, hingga simbol persaudaraan. Di balik retakannya, masyarakat membaca isyarat masa lalu dan menautkannya dengan praktik kearifan lokal yang masih hidup sampai hari ini.

Gunung Sirimau dan Nadi Kota

Sirimau bagi orang Ambon ibarat penyangga napas: hutan hujannya menahan air, lembahnya menjadi koridor angin, dan mata airnya menghidupi kampung-kampung. Di kawasan seperti ini, temuan artefak sederhana—terutama tempayan—sering mengabarkan relasi manusia-alam yang telah berlangsung lama: bagaimana warga mengakses air, menyimpan pangan, dan menandai tempat-tempat penting di rute harian maupun ritual.

Tempayan sebagai Penjaga Air

Dalam banyak tradisi di Maluku, air adalah anugerah yang dirawat lewat adat—mulai dari larangan mengambil berlebihan hingga upacara syukur selepas musim hujan. Tempayan tua di kawasan Sirimau kerap diasosiasikan dengan tiga fungsi yang saling berkelindan:

  1. Wadah penampung
    Ditempatkan di dekat sumber air atau persimpangan jalur, tempayan menegaskan prinsip “air untuk semua”—siapa pun yang lewat berhak minum, asalkan menjaga kebersihannya.

  2. Tanda rute dan batas
    Dalam hutan perbukitan, tempayan menjadi “penyemat ingatan”: penunjuk arah menuju dusun, ladang, atau lokasi ritual. Ia berfungsi mirip penanda batu, tetapi lebih “hidup” karena berinteraksi dengan kebutuhan sehari-hari.

  3. Media ritual dan syukur
    Pada momen tertentu—misalnya panen, hujan pertama, atau perdamaian antarkampung—tempayan dipakai sebagai medium simbolik: menaruh air, daun, atau biji-bijian sebagai tanda harap dan terima kasih.

Benang Merah dengan Kearifan Lokal Ambon

Kisah tempayan tua di Sirimau sejajar dengan tata nilai yang sudah lama menjadi ruh Ambon:

Lapisan “Misteri”: Dari Keramik ke Kenangan

Apa yang membuatnya “misterius”? Pertama, usia: retak, lumut, dan bekas tambalan memantik pertanyaan—sejak kapan ia diletakkan, oleh siapa, untuk tujuan apa? Kedua, asal-usul: sebagian tempayan di kawasan Maluku memiliki gaya yang mengingatkan pada jaringan dagang lama Nusantara—ada yang bergaya lokal, ada yang menyerupai produk antargugus kepulauan. Ketiga, narasi tutur: kisah-kisah lisan tentang penunggu mata air atau janji antarleluhur menjadikan tempayan bukan sekadar benda, melainkan simpul cerita.

Alih-alih mencari satu jawaban tunggal, masyarakat merayakan multi-tafsir itu sebagai kekayaan: setiap keluarga, soa (marga), atau kampung bisa menambah serpihan memori mereka sendiri. Begitulah tradisi bekerja—ia tumbuh, dituturkan ulang, dan diserahkan ke generasi berikut.

Ekologi Emosional: Benda Kecil, Dampak Besar

Tempayan tua mengajarkan ekologi emosional: hubungan yang hangat dengan tempat membuat orang lebih rela merawatnya. Saat anak-anak diajak mengisi tempayan, membersihkannya, atau mendengar kisahnya, mereka belajar tiga hal:

Di kota pesisir yang tumbuh cepat seperti Ambon, pelajaran ini krusial. Ia mencegah kita melupakan hulu di tengah gegap-gempita hilir.

OLEH OLEH : Kain Tenun Ikat Etnik Maluku Klik Disini

Jejak di Lanskap Budaya

Sirimau bukan hanya bukit—ia lanskap budaya: gabungan suara tifa dari kejauhan, jalur kebun cengkeh yang menanjak, dan percakapan warga di mata air. Tempayan tua, ditempatkan di sela-sela itu, berperan layaknya arsip terbuka. Ia menyimpan residu aktivitas: sisa daun, aroma tanah basah, bahkan cap tangan anak yang iseng menempelkan lumpur. Semua menjadi penanda halus bahwa tempat ini dihuni, dirawat, dan dicintai.

Tantangan Zaman

Modernisasi membawa dua tantangan:

  1. Perubahan fungsi ruang: pembangunan bisa menggeser jalur lama sehingga penanda tradisional kehilangan konteks.

  2. Hilangnya pengetahuan lisan: ketika generasi muda tak lagi mendengar kisah, benda tinggal benda—putus dari makna.

Jawabannya bukan membekukan tradisi, melainkan mengadaptasinya: mendokumentasikan kisah, merawat fisik tempayan, memberi papan informasi sederhana, dan menghubungkan praktik lama dengan kebutuhan baru—misalnya, konservasi sumber air perkotaan.

Rekomendasi Pengalaman Budaya (Bagi Pengunjung & Warga)

Misteri tempayan tua Gunung Sirimau bukan teka-teki yang menunggu satu jawaban akhir. Ia adalah cermin sederhana yang memantulkan cara orang Ambon menjaga hubungan dengan alam dan sesamanya. Selama air masih mengalir, kisah akan terus hidup—dituang bergiliran dari generasi ke generasi, dari tempayan ke tempayan, dari hulu ke hati***

"Beberapa link pada situs ini adalah link afiliasi. Jika Anda membeli melalui link tersebut, kami mungkin mendapatkan komisi tanpa biaya tambahan bagi Anda."

Ingin telusuri lebih? Klik disini