Di lereng-lereng hijau Gunung Sirimau—punggung kota Ambon yang setia memeluk teluk—terselip kisah tentang “tempayan tua”. Bukan sekadar wadah tanah liat, ia menyimpan lapis-lapis makna: penanda jalur, penyangga hidup, hingga simbol persaudaraan. Di balik retakannya, masyarakat membaca isyarat masa lalu dan menautkannya dengan praktik kearifan lokal yang masih hidup sampai hari ini.
Sirimau bagi orang Ambon ibarat penyangga napas: hutan hujannya menahan air, lembahnya menjadi koridor angin, dan mata airnya menghidupi kampung-kampung. Di kawasan seperti ini, temuan artefak sederhana—terutama tempayan—sering mengabarkan relasi manusia-alam yang telah berlangsung lama: bagaimana warga mengakses air, menyimpan pangan, dan menandai tempat-tempat penting di rute harian maupun ritual.
Dalam banyak tradisi di Maluku, air adalah anugerah yang dirawat lewat adat—mulai dari larangan mengambil berlebihan hingga upacara syukur selepas musim hujan. Tempayan tua di kawasan Sirimau kerap diasosiasikan dengan tiga fungsi yang saling berkelindan:
Wadah penampung
Ditempatkan di dekat sumber air atau persimpangan jalur, tempayan menegaskan prinsip “air untuk semua”—siapa pun yang lewat berhak minum, asalkan menjaga kebersihannya.
Tanda rute dan batas
Dalam hutan perbukitan, tempayan menjadi “penyemat ingatan”: penunjuk arah menuju dusun, ladang, atau lokasi ritual. Ia berfungsi mirip penanda batu, tetapi lebih “hidup” karena berinteraksi dengan kebutuhan sehari-hari.
Media ritual dan syukur
Pada momen tertentu—misalnya panen, hujan pertama, atau perdamaian antarkampung—tempayan dipakai sebagai medium simbolik: menaruh air, daun, atau biji-bijian sebagai tanda harap dan terima kasih.
Kisah tempayan tua di Sirimau sejajar dengan tata nilai yang sudah lama menjadi ruh Ambon:
Pela Gandong (persaudaraan kampung)
Nilai pela gandong mengikat kampung-kampung dalam ikrar saling menolong dan menghormati. Tempayan yang “siap bagi siapa saja” merefleksikan semangat berbagi lintas batas.
Sasi (aturan kelola sumber daya)
Sasi membatasi pemanfaatan alam pada periode tertentu demi keberlanjutan. Tempayan yang ditempatkan di titik air menyimpan pesan yang sama: ambil secukupnya, jaga yang tersisa.
Gotong royong & jaga ale-ale
Di Ambon, ajakan “jaga” (menjaga) bukan hanya urusan keamanan, melainkan merawat ruang hidup bersama. Tempayan dijaga bersama; bila pecah, masyarakat turut bertanggung jawab memperbaiki atau menggantinya.
Apa yang membuatnya “misterius”? Pertama, usia: retak, lumut, dan bekas tambalan memantik pertanyaan—sejak kapan ia diletakkan, oleh siapa, untuk tujuan apa? Kedua, asal-usul: sebagian tempayan di kawasan Maluku memiliki gaya yang mengingatkan pada jaringan dagang lama Nusantara—ada yang bergaya lokal, ada yang menyerupai produk antargugus kepulauan. Ketiga, narasi tutur: kisah-kisah lisan tentang penunggu mata air atau janji antarleluhur menjadikan tempayan bukan sekadar benda, melainkan simpul cerita.
Alih-alih mencari satu jawaban tunggal, masyarakat merayakan multi-tafsir itu sebagai kekayaan: setiap keluarga, soa (marga), atau kampung bisa menambah serpihan memori mereka sendiri. Begitulah tradisi bekerja—ia tumbuh, dituturkan ulang, dan diserahkan ke generasi berikut.
Tempayan tua mengajarkan ekologi emosional: hubungan yang hangat dengan tempat membuat orang lebih rela merawatnya. Saat anak-anak diajak mengisi tempayan, membersihkannya, atau mendengar kisahnya, mereka belajar tiga hal:
Hormat pada air sebagai sumber hidup.
Kesadaran batas: tidak semua yang ada harus diambil.
Rasa memiliki bersama: ruang publik adalah warisan yang dijaga kolektif.
Di kota pesisir yang tumbuh cepat seperti Ambon, pelajaran ini krusial. Ia mencegah kita melupakan hulu di tengah gegap-gempita hilir.
OLEH OLEH : Kain Tenun Ikat Etnik Maluku Klik Disini
Sirimau bukan hanya bukit—ia lanskap budaya: gabungan suara tifa dari kejauhan, jalur kebun cengkeh yang menanjak, dan percakapan warga di mata air. Tempayan tua, ditempatkan di sela-sela itu, berperan layaknya arsip terbuka. Ia menyimpan residu aktivitas: sisa daun, aroma tanah basah, bahkan cap tangan anak yang iseng menempelkan lumpur. Semua menjadi penanda halus bahwa tempat ini dihuni, dirawat, dan dicintai.
Modernisasi membawa dua tantangan:
Perubahan fungsi ruang: pembangunan bisa menggeser jalur lama sehingga penanda tradisional kehilangan konteks.
Hilangnya pengetahuan lisan: ketika generasi muda tak lagi mendengar kisah, benda tinggal benda—putus dari makna.
Jawabannya bukan membekukan tradisi, melainkan mengadaptasinya: mendokumentasikan kisah, merawat fisik tempayan, memberi papan informasi sederhana, dan menghubungkan praktik lama dengan kebutuhan baru—misalnya, konservasi sumber air perkotaan.
Jelajah hulu: susuri jalur-jalur aman di Sirimau bersama pemandu lokal—fokus pada mata air, kebun, dan pos-pos penanda tradisional.
Dengar kisah: sempatkan berbincang dengan tetua kampung; catat ungkapan-ungkapan kunci, nama tempat, dan tata cara yang disarankan.
Ikuti etika lokal: minta izin, jangan menyentuh atau memindahkan tempayan tanpa pendamping adat; jika mengambil air, kembalikan dalam keadaan bersih.
Dukung ekonomi setempat: beli hasil kebun, cendera mata kerajinan, atau titip donasi perawatan jalur.
Dokumentasi bijak: jika memotret, cantumkan konteks—bahwa ini bagian dari praktik budaya yang hidup, bukan “benda antik” semata.
Misteri tempayan tua Gunung Sirimau bukan teka-teki yang menunggu satu jawaban akhir. Ia adalah cermin sederhana yang memantulkan cara orang Ambon menjaga hubungan dengan alam dan sesamanya. Selama air masih mengalir, kisah akan terus hidup—dituang bergiliran dari generasi ke generasi, dari tempayan ke tempayan, dari hulu ke hati***
"Beberapa link pada situs ini adalah link afiliasi. Jika Anda membeli melalui link tersebut, kami mungkin mendapatkan komisi tanpa biaya tambahan bagi Anda."