KLIK VIDEO LAINYA DI SINI ( Pesan Bupati Karanganyar)
Setiap bulan Suro, masyarakat Jatipuro menggelar tradisi spiritual bertajuk Wahyu Kliyu, menghadirkan kirab budaya dan ritual zikir yang menghidupkan warisan leluhur dan mempererat solidaritas sosial.
Bulan Suro membawa getaran spiritual di Desa Jatipuro, Karanganyar. Di tengah balutan malam, ribuan apem dilemparkan dalam prosesi Wahyu Kliyu—ritual zikir akbar yang dipercaya sebagai penolak bala dan simbol harapan masyarakat. Sebuah warisan budaya yang terus dirawat, menyatukan doa dan tradisi dalam harmoni Nusantara.
Wahyu Kliyu digelar rutin setiap tanggal 14–15 bulan Suro dalam kalender Jawa. Berpusat di Dusun Kendal Lor dan Kidul, Kecamatan Jatipuro, prosesi diawali dengan zikir malam di balai desa, dipimpin oleh sesepuh masyarakat. Ribuan laki-laki duduk melingkar, melantunkan "Ya Hayyu, Ya Qayyumu", membentuk suasana sakral yang menggugah jiwa.
Esok harinya, kirab budaya menjadi sorotan. Warga membawa 17 gunungan berisi sekitar 17.000 apem. Apem dalam tradisi Jawa melambangkan maaf, pengampunan, dan doa yang manis. Gunungan diarak keliling desa dan dibagikan kepada warga sebagai simbol keberkahan. Momen ini menjadi ajang perekat sosial sekaligus tontonan budaya yang memikat wisatawan lokal.
Tak hanya sebagai bentuk ibadah, Wahyu Kliyu juga menjadi simbol gotong royong. Warga dari 316 KK di Dusun Kendal turut menyumbang apem secara sukarela. Ritual ini dipercaya menolak bala, memohon keselamatan, dan mempererat tali silaturahmi. Tradisi ini mengakar kuat sebagai bentuk sedekah bumi dan ungkapan rasa syukur.
Sejak 2021, Wahyu Kliyu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pemerintah daerah pun aktif mendorong pelestarian tradisi ini melalui kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan pelibatan generasi muda.
Bupati Karanganyar Rober Christanto dan Wabup Adhe Eliana turut hadir dalam acara tahun ini. Mereka menyatakan komitmen untuk menjadikan Wahyu Kliyu sebagai kalender budaya tahunan berskala provinsi, bahkan nasional. “Tradisi ini bukan hanya tentang ritual, tapi juga tentang karakter masyarakat dan kearifan lokal,” ujar Bupati.
Di tengah derasnya arus modernitas, Wahyu Kliyu berdiri sebagai pengingat bahwa nilai-nilai spiritual, kebersamaan, dan cinta tradisi tetap relevan. Di Jatipuro, apem bukan sekadar makanan—ia adalah doa, simbol harapan, dan jembatan antara generasi masa lalu dan masa depan. ( Sumber : Humas Skretariat Bupati Karanganyar )
#WahyuKliyu #TradisiJawa #BudayaKaranganyar #BulanSuro #WonderNusantara #Apem #ZikirAdat #WarisanBudaya #IndonesiaHebat